MATERI KHUTBAH JUM’AT
“MAKNA TAUHID RUBUBIYYAH, MULKIYYAH DAN ULUHIYYAH”
Oleh
: Royo Eko Wardoyo, S.Pd
Disampaikan di Masjid Al Mu’minun, Perum Citramas,
Cimalaka
? Mukaddimah Khutbah Jum’at
Assalamu'alaikum
Warohmatullahi Wabarokaatuh,
ان الحمد للھ نحمدە
ونستعينھ ونستغفرە ونعوذبا للھ من شرور ٲنفسنا ومن سيأت اعما لنا من يھده اللھ فلا
مضل لھ ومن يضلل فلا ھادي لھ واشھدان لاالھ الااللھ واشھدان محمدا عبده ورسولھ
قل
اللھ تعل فى الكتب الكريم
بسم
اللھ الرحمن الرحيم
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
قل
اللھ تعل ايظن بسم اللھ الرحمن الرحيم
ﻗﻞﺍﻋﻮﺬﺑﺮﺍﻟﻧﺎﺲﻤﻟﻚﺍﻟﻧﺎﺲﺍﻟﻪﺍﻟﻧﺎﺲﻤﻦﺸﺮﺍﻟﻭﺴﻭﺍﺲﺍﻟﺧﻧﺎﺲﺍﻟﺬﻱﻴﻮﺴﻭﺲﻓﻲﺼﺩﻮﺮﺍﻟﻧﺎﺲﻤﻥﺍﻟﺟﻧﺔﻮﺍﻟﻧﺎﺲ
Jamaah Rahimakumullah,
Kita mungkin sudah hafal betul dengan surat
An-Naas yang mungkin setiap hari kita baca, kita lafalkan dalam sholat dan
ibadah kita, namun kadangkala kita jarang sekali berusaha untuk membahas isi
dan kandungannya. Alih-alih membahas atau membuka tafsir kemudian mentadzaburi
dan mengupas kandungannya, seringkali kita umat Islam sendiri punya
kecenderungan hanya sebatas hafal saja, jauh dari mengaplikasikannya dalam
kehidupan sehari-hari. Ibaratnya buah, kita hanya merasakan kulitnya saja jauh
dari isinya. Untuk itu sengaja pada kesempatan khutbah jum’at hari ini sedikit
kita sampaikan tentang kandungan Surat An-Naas, dengan harapan mudah-mudahan
kita semua dapat memetik pelajaran darinya.
Jamaah Rahimakumullah,
Surat An-Naas merupakan golongan surat yang diturunkan di Mekah atau yang
biasa disebut surat Makkiyyah. Nama “An-Naas” diambil dari kata “An-Naas” yang
disebut berulang kali di dalam surat ini yang berarti manusia. Diturunkan
sesudah surat Al Falaq, surat An-Naas terdiri dari 6 ayat yang pokok isinya
adalah perintah kepada manusia agar berlindung kepada Allah SWT dari segala
macam kejahatan yang datang ke dalam jiwa manusia dari jin dan manusia.
Ustadz Ibnu Katsir
dalam Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hal 696 menjelaskan ,
“Ayat 1 sampai 3 dari surat An-Nas yakni : Qul A’udzu birobbinnas, malikinnas,
ilaahinnas.. menegaskan 3
aspek ketauhidan yang paling fundamental
yakni Tauhid Rububiyyah, Mulkiyyah dan
Uluhiyyah”.
Tauhid
Rububiyyah terambil dari kalimat Rabbinas. Maknanya yakin hanya Allah
satu-satunya yang Maha Pencipta, Pemilik, Pengendali alam raya dan dengan
kekuasaan-Nya Ia menghidupkan dan mematikan. Seperti yang tertera dalam
penggalan firman-Nya di dalam Q.S. Ar-Rum 30 : 40 di bawah ini :
ﺍﷲ ﺍﻠﻨﻱ ﺧﻠﻗﻛﻡ
ﺛﻡ ﺮﺯﻗﻛﻡ ﺛﻡ ﻴﻣﻴﺗﻛﻡ............. ﴿ ﺍﻠﺮوﻡ ׃ ٤٠﴾
Artinya : “ Allah-lah yang menciptakan kamu,
kemudian
memberimu rizki, kemudian
mematikanmu, kemudian
menghidupkanmu(kembali)….”
( Q.S. Ar-Rum 30 : 40)
Tauhid Rububiyyah ini juga berarti
mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal perbuatanNya. Seperti mencipta,
memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan bahaya, memberi
manfaat, dan lain-lain yang merupakan perbuatan-perbuatan khusus Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Seorang muslim haruslah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa
Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam RububiyahNya.
Tauhid Mulkiyyah terambil dari kalimat Malikinnas. Maknanya, yakin hanya
Allah SWT raja atau penguasa yang sesungguhnya, penguasa yang paling berhak
menentukan aturan hidup. Aturan hidup-Nya termaktub dalam Al-Qur’an dan sunah
Rasul. Jadi, kalau kita mau mempelajari dan
mengamalkan aturan hidup itu, berarti kita telah melaksanakan Tauhid
Mulkiyyah. Bahkan Allah SWT mengecam orang-orang yang tidak
mengimplementasikan Tauhid Mulkiyyah dalam kehidupannya, seperti yang ada dalam
Q.S. Al Maidah 5 : 50 di bawah ini :
ﺃﻓﺣﻜﻡ ﺍﻠﺟﺎﻫﻠﻴﺔ ﻴﺑﻐﻭﻦ٠ﻭﻤﻦ ﺃﺤﺴﻦ ﻤﻦ ﺍﷲ ﺤﻜﻤﺎ
ﻠﻗﻭﻢ ﻴﻭﻗﻧﻭﻦ ﴿ﺍﻟﻤٮدۃ׃٥٠﴾
Artinya : ” Apakah hukum jahiliyyah yang
mereka kehendaki, dan
(hukum) siapakah yang lebih
baik daripada (hukum)
Allah bagi orang-orang yang
yakin?”
(Q.S.
Al Maidah 5 : 50)
Jamaah Rahimakumullah,
Yang
dimaksud hukum jahiliyyah adalah aturan hidup atau hukum produk manusia yang
berseberangan atau bertentangan dengan nilai-nilai Qur’ani. Misalnya saat
pembagian warisan kita lebih suka menggunakan hukum waris adat ketimbang hukum
waris Islam, padahal hukum waris adat banyak yang bertentangan dengan ajaran
Islam. Ini merupakan pelanggaran terhadap Tauhid
Mulkiyyah. Adapun hukum atau aturan buatan manusia yang tidak bertentangan
atau sejalan dengan nilai-nilai Islam, tentu tidak disebut hukum jahiliyyah dan
kita wajib untuk menaatinya demi kemaslahatan. Salah satu contohnya adalah kita
harus menghentikan kendaraan bila lampu merah. Aturan ini harus kita taati
karena tidak menyalahi aturan Islam dan bermanfaat untuk kemashlahatan. Contoh
yang lain, saat ujian atau tes, kita tidak boleh bermain curang (nyontek). Ini
aturan yang wajib ditaati karena senafas dengan ajaran Islam yang menekankan
kejujuran dalam segala hal. Inilah makna aqimishsholat
( = mendirikan sholat) yang berbekas dalam segala aspek kehidupan.
Jamaah Rahimakumullah,
Tauhid
Uluhiyyah terambil dari kalimat Ilaahinnas. Maknanya, suatu keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang
paling berhak untuk diibadahi. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an surat
Al-Anbiya 21 : 25 berikut ini :
ﻭﻤﺎ ﺃﺮﺴﻟﻨﺎ ﻤﻦ ﻗﺑﻟﻙ ﻤﻦ ﺮﺴﻭﻞ ﺍﻻ ﻨﻭﺤﻰ ﺇﻟﻴﻪ ﺃﻨﻪ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺃﻨﺎ ﻓﺎﻋﺑﺪﻭﻥ ﴿ﺍﻻﻨﺑﻴﺎء׃٢٥﴾
Artinya : ”Dan
tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan
kepada mereka bahwa tiada Tuhan selain Aku, maka beribadahlah hanya kepada-Ku”.
(Q.S. Al Anbiya :25)
Tauhid Uluhiyyah juga berarti mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam
jenis-jenis peribadatan yang telah disyariatkan. Seperti ; shalat, puasa,
zakat, haji, do’a, nadzar, sembelihan, berharap, cemas, takut, dan sebagainya
yang tergolong jenis ibadah. Mengesakan Allah SWT
dalam hal-hal tersebut dinamakan Tauhid Uluhiyah. Tauhid jenis inilah yang dituntut oleh Allah SWT dari hamba-hamba-Nya.
Karena tauhid jenis pertama, yaitu Tauhid Rububiyyah,
setiap orang (termasuk jin) mengakuinya, sekalipun orang-orang musyrik yang
Allah SWT utus Rasulullah kepada mereka. Mereka meyakini Tauhid Rububiyyah
ini, sebagaiman tersebut dalam firman Allah SWT berikut ini :
ﻭﻠﯦﻦ ﺴﺄ ﻠﺗﻬﻢ ﻤﻦ ﺧﻠﻖﺍ ﻠﺴﻤﻮﺍﺖ ﻮﺍﻻ ﺮﺽ
ﻮﺴﺨﺮﺍﻠﺸﻤﺲ ﻮﺍﻠﻗﻤﺮ ﻠﻴﻗﻮﻠﻦ ﺍﷲ ﻔﺄ ﻧﻰ ﻴۇﻔﻜﻮﻦ ﴿ﺍﻠﻌﻨﻜﺑﻮﺕ׃٦١﴾
Artinya : ”Dan
sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : ”Siapakah yang menjadikan
langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan
menjawab ”Allah”, maka bagaimana mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang
benar).
(Q.S. Al
Ankabut 29 : 61)
Menurut
ayat ini, mereka meyakini kalau Allah itu yang menciptakan langit dan bumi
serta yang mengatur peredaran alam semesta. Ini merupakan indikator adanya
Tauhid Rububiyyah, namun mereka tidak memiliki Tauhid Uluhiyyah, di
mana mereka tidak pernah menyembah Allah SWT sebagai Tuhan namun mereka malah
mempersekutukan Allah dengan menyembah Thogut, Latta, Uzza dan lain sebagainya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa orang yang punya Tauhid Rububiyyah belum tentu
memiliki Tauhid Uluhiyyah.
Firman
Allah SWT yang lainnya berkaitan dengan ketauhidan Rububiyyah oarang-orang
kafir :
1.
Q.S. Al-Zukhruf : 87, yang Artinya : “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada
mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka ?’ niscaya mereka menjawab ‘Allah’.
Maka bagaimana mereka dapat dipalingkan(dari menyembah Allah)”
2.
Q.S. Al-Mu’minun : 86-87 yang Artinya : “Katakanlah, ‘Siapakah yang mempunyai tujuh langit dan
mempunyai ‘Arsy yang besar ?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah’.
Katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa?”
Jamaah Rahimakumullah,
Jamaah Rahimakumullah,
Masih banyak ayat-ayat yang menunjukkan
bahwa orang-orang musyrik meyakini
Tauhid Rububiyah. Akan tetapi, sebenarnya yang dituntut dari mereka adalah
mengesakan Allah dalam hal ibadah. Jika mereka mengikrarkan Tauhid Rububiyah,
maka hendaknya juga mengakui Tauhid Uluhiyah (ibadah). Sungguh, Rasulullah
(diutus untuk)menyeru mereka agar meyakini Tauhid Uluhiyah. Hal ini disebutkan
dalam firman Allah
SWT dalam Q.S. An-Nahl : 36 yang artinya :
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada
tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah
Thagut, lalu diantara umat-umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh
Allah dan ada pula orang-orang yang telah dipastikan sesat. Oleh karena itu,
berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang
yang mendustakan para rasul”
Setiap rasul menyeru manusia agar meyakini
Tauhid Uluhiyah. Adapun Tauhid Rububiyah, karena merupakan fitrah, maka
belumlah cukup kalau seseorang hanya meyakini tauhid ini saja.
Jamaah Rahimakumullah,
Marilah
kita proyeksikan analisis ini pada kehidupan kita. Apakah
diri kita sama dengan orang-orang kafir yang hanya memiliki ketauhidan
Rububiyyah saja sedangkan keyakinan kita tentang Tahuhid Uluhiyyah belum pada
tempatnya???? Mari kita menghasabah diri sendiri masing-masing untuk meraih
kesempurnaan peribadahan kepada Allah SWT dengan berkeyakinan dan berpegang
pada Tauhid Rububiyyah, Mulkiyyah dan Uluhiyyah.
Mudah-mudahan materi khutbah
Jum’at yang saya sampaikan bermanfaat khususnya kepada diri saya sendiri dan
umumnya untuk jamaah semuanya. Amin ya robbal ‘alamin......
Barokallohu li walakum fil
qur’anil ‘adzim, wanafaani minnal ayati wadzikril hakim. Wataqoballohu minna wa
minkum tilawatahu, innahu huwal ghofurrurrohim.....
ﺍﻥﺍﷲ ﻮﻣﻶ ﺌﻜﺘﻪ ﻴﺼﻟﻮﻥﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺑﻰ ﻴﺎﺍﻴﻬﺎ ﺍﻠﺬﻴﻦ آﻤﻧﻮ ﺍﺼﻟﻮ ﺍﻋﻟﻴﻪ ﻮﺴﻠﻤﻭﺍﺗﺴﻟﻡ
Ibadallah, innalloha ya’muru bil
‘adli wal ihsan. Waitaa idil qurba wa yanha ‘anil fahsa’i wal munkar wal bagh.
Ya’idzukum la’alakum tadzakarun. Wala dzikrulohi akbar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar