Batas Antara Kita dan Mereka Adalah
Shalat
Oleh : Royo Eko Wardoyo, S.Pd
(Khutbah Jum’at disampaikan di
Masjid Jami’ Al-Mu’minun Perum Asabri Citramas
إنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ
اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ
اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيباً.
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
أما بعد
Wahai Kaum Muslimin Rahimahumullah,
Melalui khutbah jum’at ini, saya berwasiat kepada diri
saya sendiri dan kepada para jama’ah sekalian, marilah kita bersama-sama
senantiasa meningkatkan kadar ketakwaan kepada Allah SWT dalam arti yang
sebenar-benarnya, yakni dengan menjalankan semua perintah-perintah Allah dan
menjauhi semua larangan-Nya. Ketahuilah bahwa tidak ada perbedaan antar
seseorang dengan seorang yang lain kecuali karena ketakwaannya. Maka, alangkah
bahagia dan beruntungnya orang yang termasuk ke dalam golongan muttaqin.
Karena kelak akan mendapatkan tempat dan maqam yang mulia di sisi Illahi
Robbi.
Jamaah Jum’at Rohimahumullah,
Sesungguhnya manusia kini tengah terjebak di dalam
timbunan kesibukan dunia yang materialistik bersama aneka macam problema jiwa
dan ketegangan syaraf yang ditimbulkan oleh nafsunya, mereka sangat membutuhkan
sesuatu yang bisa menghibur perasaannya. Melepaskan beban penderitaannya, dan
membangkitkan perasaan tentram di dalam hati dan perasaan tenang di dalam jiwa,
jauh dari kesulitan, kegelisahan, dan keresahan. Mana mungkin manusia bisa
menemukan hal itu di luar naungan Islam dan ibadah-ibadahnya yang agung, yang
merupakan terapi rohani yang mutlak ampuh dan tidak tergantikan oleh terapi
materi. Ketahuilah, bahwa ibadah yang memiliki pengaruh terbesar dalam hal itu
ialah shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah.
Allah berfirman :
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ
“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan
shalat sebagai penolongmu.” (QS.Al-Baqarah :153)
وَأَقِمِ الصَّلاَةَ
إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ
“Dan dirikanlah shalat.Sesungguhnya shalat itu
mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut :45)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
bersabda kepada Bilal radiyallahu ‘anhu :
“Bangkitlah hai Bilal, hiburlah kami dengan shalat.’’
( HR.Ahmad, 5:371, dan Abu Daud, 4986 )
“Dan setiap kali dirundung masalah, beliau selalu
melaksanakan shalat.” (HR. Ahmad, 5:388 dan Abu Daud, 1319 )
Hal itu tidak lain karena shalat adalah
komunikasi antara hamba dengan tuannya. Berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam shalat memiliki efek yang sangat besar dalam memperbaiki
jiwa manusia, bahkan seluruh masyarakat manusia.
Hanya, shalat seperti apakah yang dapat mempererat
hubungan komunikasi antara makhluk dan penciptanya? shalat seperti apakah yang
dapat memberikan efek yang positif di dalam diri pelakunya, sehingga dapat
mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, dan bisa membantunya dalam urusan
agama dan dunianya; mendorongnya untuk melaksanakan kewajiban dan menjauhi
hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan? apakah itu shalat jasmani tanpa ruh,
badan tanpa hati, gerakan tanpa kekhusyukan, bentuk tanpa esensi, kata-kata
tanpa makna? Bukan! sama sekali bukan! Tetapi shalat Syar’iyah nabawiyah yang
dilaksanakan menurut rambu-rambu Alquran dan sunah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Jamaah Jum’at Rohimahumullah,
Sesungguhnya shalat yang diserukan Islam merupakan
mi’raj ruhani bagi seorang mukmin. Karena ruhnya bisa membawanya mi’raj ( naik
ke langit ) setiap kali ia melaksanakan shalat kepada Allah, baik shalat fardlu
maupun shalat sunnah. Ruhnya mengajaknya pindah dari alam materi menuju alam
yang tinggi, jernih, suci dan bersih. Di situlah sumber kebahagiaan dan
ketenteraman.
Setiap muslim pasti mengetahui kedudukan shalat di
dalam agama dan syariat Allah. Karena shalat adalah tiang agama Islam dan garis
pemisah antara kufur dan iman. Posisi shalat dalam Islam seperti posisi kepala
bagi tubuh. Bila manusia tidak bisa hidup tanpa kepala, begitu pula agama tidak
bisa wujud tanpa shalat. Nash-nash syariat yang menerangkan hal itu
sangat banyak. Jika masalahnya sedemikian penting dan krusial maka satu hal
yang sangat menyesakkan dada dan menyakitkan hati ialah bahwa di antara
orang-orang yang mengaku Islam masih ada orang-orang yang hidup di
tengah-tengah kaum muslimin, tetapi meremehkan dan menyepelekan shalat. Bahkan
terkadang lebih parah dari itu. Laa haula wala quata illa billah!
Akankah mereka berhenti bersikap seperti itu sebelum
mereka ditimpa murka Allah, dikepung azab Allah, atau dijemput maut?
Saudara-saudaraku yang rajin shalat! berbahagialah
dengan shalat. Bergembiralah bila Allah melapangkan dada anda untuk
melaksanakan kewajiban yang agung ini. Selamat buat anda yang akan menerima
balasan dan anugerah dari Allah, baik di dunia maupun di Akhirat. Karena anda
telah melaksanakan kewajiban agama yang agung ini.
Wahai orang-orang yang rajin shalat, ketahuilah bahwa
shalat yang diterima oleh Allah harus memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun,
wajib-wajib, dan adab-adab tertentu. Di samping itu, banyak masalah penting dan
kesalahan yang berkembang luas seputar kewajiban ini yang harus diketahui dan
dipraktikkan oleh orang-orang yang shalat. Di dalam Musnad Ahmad disebutkan:
“Orang yang paling buruk pencuriannya ialah orang
yang mencuri sebagian dari shalatnya.’’ (al-Musnad, 5:310 )
Yang dimaksud dengan mencuri di dalam shalat ialah
tidak menyempurnakan rukuknya, sujudnya dan khusyuknya.
Dan ada pula riwayat yang menyebutkan, bahwa orang
yang selesai shalat akan dicatat dari shalatnya sebesar 25 persen, atau 20
persen, hingga 10 persen saja. ( HR. Ahmad, 4:321 dan Abu Daud, 796 )
Jamaah Jum’at Rohimahumullah,
Ini mengajak setiap muslim yang melaksanakan shalat
agar memperhatikan urusan shalatnya, supaya ia tidak kehilangan pahala dan
mendapatkan siksa.
Berikut ini adalah hal-hal singkat yang perlu mendapat
perhatian dalam masalah ini :
1. Bersuci
secara lahir dan batin. Karena bersuci adalah
syarat besar bagi sahnya shalat. Dan shalat tidak sah tanpa bersuci. Maka
setiap orang yang menunaikan shalat harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh
urusan bersuci dan wudlunya. Ia tidak boleh meremehkan hal itu. Juga tidak
boleh berlebihan dalam menyikapinya hingga sampai ke tingkat waswas. Salah satu
hal yang sangat disesalkan dalam soal ini yaitu sebagian orang awam tidak
memberikan perhatian secukupnya terhadap masalah wudlu dan bersuci. Bahkan ada
yang melakukan tayammum di dekat air atau sebenarnya bisa mencari air. Ini
adalah kecerobohan yang nyata.
2. Menghadap
kiblat. Ini juga termasuk syarat sah shalat yang penting.
Orang yang berada di Masjidil Haram harus menghadap ke arah Ka’bah secara
tepat. Sebagian orang ternyata tidak memahami masalah ini atau meremehkannya.
3. Menutup
aurat. Ini juga termasuk syarat sah shalat yang penting. Apa
yang dilakukan sebagian orang yang teledor dalam masalah ini seperti memakai
pakaian yang transparan, atau celana ketat yang bisa memperlihatkan warna
kulitnya atau membedakan sifatnya adalah hal yang perlu diperhatikan. Wanita di
dalam shalat harus menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajahnya, jika berada di
antara lelaki yang bukan mahramnya atau berada di masjid yang berpotensi
dilihat oleh kaum lelaki, maka kondisi semacam ini ia wajib menutupi wajahnya.
Dan ia harus datang ke masjid dengan pakaian yang sederhana, tertutup rapat,
tidak bersolek dan tidak memakai parfum, agar ia bisa pulang ke rumahnya dengan
membawa pahala, bukan dosa.
4. Memperhatikan
kerapian shaf (barisan). Dalam riwayat yang shahih
disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merapikan
sendiri barisan-barisan yang ada. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa
beliau bersikap keras kepada orang yang tidak memperhatikan hal itu. Dalam
sebuah hadits Rasulullah shalallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kalian
benar-benar merapikan barisan kalian, atau Allah benar-benar akan membuat
wajah-wajah kalian berselisih.’’ ( HR. Al-Bukhari, 717 dan Muslim, 436 )
5.
Inti shalat dan ruhnya adalah khusyu’. Allah
berfirman :
قَدْ أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang beriman, ( Yaitu ) orang-orang yang khusyu’ dalam
shalatnya.” (QS. Al-Mukminun :1-2)
Di mana letak khusyu’nya orang-orang yang melaksanakan
shalat dengan perasaan malas, berat, tertekan, kesal, dan ingin bebas dari
kewajiban shalat? Di mana letak kekhusyu’an orang-orang yang tidak fokus di
dalam shalatnya? Shalat mereka hanyalah main-main, gerak-gerik, tengak-tengok,
miring kesana kemari, cepat-cepat dan tergesa-gesa. Hati mereka berkeliaran di
lembah, sementara akalnya merumput di tempat lain. Shalat semacam ini adalah
shalat yang kosong, tidak sempurna.
Maka setiap orang yang melaksanakan shalat, harus
menjaga kekhusyukan dan kehadiran hatinya secara terus-menerus. Dan ia harus
melakukan upaya-upaya yang bisa membantunya untuk itu, dan mewaspadai hal-hal
yang merusak kekhusyukannya.
Jamaah Jum’at Rohimahumullah,
Thuma’ninah adalah salah satu rukun
shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Kini banyak orang yang meremehkannya
akibat lemahnya iman, dan tamaknya perasaan duniawi di dalam jiwa. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang melaksanakan shalat
secara buruk, karena tergesa-gesa dan tidak thuma’ninah.
“Kembalilah
lalu shalatlah. Karena sesungguhnya kamu belum shalat.’’ (HR. Al-Bukhari,
793 dan Muslim, 397 )
6.
Yang juga perlu diperhatikan ialah kewajiban
mengikuti imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:
“Sesungguhnya
imam itu diadakan untuk diikuti.” ( HR.Al-Bukhari,688 dan Muslim, 412 )
Jadi, makmum tidak boleh lebih maju dari imam atau
mendahului gerakan imam. Bahkan hal itu bisa menjadi penyebab tertolak atau
batalnya shalat. Ada riwayat yang berisi ancaman keras terhadap orang yang
berbuat seperti itu. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radiyallahu
‘anhu yang disepakati keshahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim
dinyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:
“Tidaklah
salah seorang di antara kamu merasa takut apabila ia mengangkat kepalanya
sebelum imam bahwa Allah akan menjadikan kepalanya sebagai kepala keledai atau
menjadikan wujudnya sebagai wujud keledai?!” (HR. al-Bukhari, 691,dan Muslim,
427 )
Imam Ahmad rahimahullah berkata :
“Tidak sah shalat orang yang mendahului imamnya.”
Perkara yang demikian gawat dan sangsinya seperti itu
seharusnya mendapat perhatian yang serius dari setiap orang yang melaksanakan
shalat. Jangan sampai ia dijerumuskan oleh setan yang ingin merusak shalatnya.
Dan kondisi rill para makmum dalam kaitan ini sangat memprihatinkan dan
menyedihkan. Allahul Musta’an .
Jamaah Jum’at Rohimahumullah,
Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah dalam urusan kita
pada umumnya dan shalat kita pada khususnya. Karena bagian yang diperoleh
seseorang dari Islam setara dengan kadar bagiannya dan dari shalat. Kini,
marilah kita berfikir tentang kondisi kita sendiri. Apa yang akan kita peroleh
bila kita meremehkan seluruh syi’ar Islam, terutama shalat? Sesungguhnya umat
yang orang-orangnya tidak mau berdiri di hadapan Allah dalam shalat untuk meminta
anugerah dan kebaikan dari-Nya, benar-benar pantas untuk tidak mampu berdiri
kokoh pada momen-momen kebaikan, persatuan, kemenangan dan kekuatan. Karena
semua itu hanya bisa datang dari Allah semata. Maka, apabila kita memperbaiki
hubungan kita dengan Allah, niscaya Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan
sesama manusia.
Sesungguhnya kehancuran dan kemunduran peradaban yang
terjadi di berbagai belahan bumi, berpangkal pada kejatuhan anak-anaknya di
lembah-lembah pelanggaran hukum dan keengganan melaksanakan kewajiban yang
paling wajib, yaitu shalat.
Hanya Allahlah yang pantas kita minta untuk
memperbaiki kondisi umat Islam di mana saja, memberi mereka pemahaman yang
benar tentang agamanya. Dan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang teguh
menjaga syi’ar-syi’ar agamanya, menghormatinya, dan menegakkan tiangnya dengan
sebaik-baiknya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ
ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
Barokallohu li walakum fil qur’anil ‘adzim, wanafaani minnal ayati
wadzikril hakim. Wataqoballohu minna wa minkum tilawatahu, innahu huwal
ghofurrurrohim.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar