Minggu, 13 November 2016

Khutbah Jum'at : Batas Antara Kita dan Mereka Adalah Shalat

Batas Antara Kita dan Mereka Adalah Shalat
Oleh : Royo Eko Wardoyo, S.Pd
(Khutbah Jum’at disampaikan di Masjid Jami’ Al-Mu’minun Perum Asabri Citramas
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
أما بعد
Wahai Kaum Muslimin Rahimahumullah,
Melalui khutbah jum’at ini, saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada para jama’ah sekalian, marilah kita bersama-sama senantiasa meningkatkan kadar ketakwaan kepada Allah SWT dalam arti yang sebenar-benarnya, yakni dengan menjalankan semua perintah-perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Ketahuilah bahwa tidak ada perbedaan antar seseorang dengan seorang yang lain kecuali karena ketakwaannya. Maka, alangkah bahagia dan beruntungnya orang yang termasuk ke dalam golongan muttaqin. Karena kelak akan mendapatkan tempat dan maqam yang mulia di sisi Illahi Robbi.
Jamaah Jum’at Rohimahumullah,
Sesungguhnya manusia kini tengah terjebak di dalam timbunan kesibukan dunia yang materialistik bersama aneka macam problema jiwa dan ketegangan syaraf yang ditimbulkan oleh nafsunya, mereka sangat membutuhkan sesuatu yang bisa menghibur perasaannya. Melepaskan beban penderitaannya, dan membangkitkan perasaan tentram di dalam hati dan perasaan tenang di dalam jiwa, jauh dari kesulitan, kegelisahan, dan keresahan. Mana mungkin manusia bisa menemukan hal itu di luar naungan Islam dan ibadah-ibadahnya yang agung, yang merupakan terapi rohani yang mutlak ampuh dan tidak tergantikan oleh terapi materi. Ketahuilah, bahwa ibadah yang memiliki pengaruh terbesar dalam hal itu ialah shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah.
Allah berfirman :
يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ
Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS.Al-Baqarah :153)
وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ
Dan dirikanlah shalat.Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut :45)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Bilal radiyallahu ‘anhu :
Bangkitlah hai Bilal, hiburlah kami dengan shalat.’’ ( HR.Ahmad, 5:371, dan Abu Daud, 4986 )
Dan setiap kali dirundung masalah, beliau selalu melaksanakan shalat.” (HR. Ahmad, 5:388 dan Abu Daud, 1319 )
 Hal itu tidak lain karena shalat adalah komunikasi antara hamba dengan tuannya. Berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam shalat memiliki efek yang sangat besar dalam memperbaiki jiwa manusia, bahkan seluruh masyarakat manusia.
Hanya, shalat seperti apakah yang dapat mempererat hubungan komunikasi antara makhluk dan penciptanya? shalat seperti apakah yang dapat memberikan efek yang positif di dalam diri pelakunya, sehingga dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, dan bisa membantunya dalam urusan agama dan dunianya; mendorongnya untuk melaksanakan kewajiban dan menjauhi hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan? apakah itu shalat jasmani tanpa ruh, badan tanpa hati, gerakan tanpa kekhusyukan, bentuk tanpa esensi, kata-kata tanpa makna? Bukan! sama sekali bukan! Tetapi shalat Syar’iyah nabawiyah yang dilaksanakan menurut rambu-rambu Alquran dan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jamaah Jum’at Rohimahumullah,
Sesungguhnya shalat yang diserukan Islam merupakan mi’raj ruhani bagi seorang mukmin. Karena ruhnya bisa membawanya mi’raj ( naik ke langit ) setiap kali ia melaksanakan shalat kepada Allah, baik shalat fardlu maupun shalat sunnah. Ruhnya mengajaknya pindah dari alam materi menuju alam yang tinggi, jernih, suci dan bersih. Di situlah sumber kebahagiaan dan ketenteraman.
Setiap muslim pasti mengetahui kedudukan shalat di dalam agama dan syariat Allah. Karena shalat adalah tiang agama Islam dan garis pemisah antara kufur dan iman. Posisi shalat dalam Islam seperti posisi kepala bagi tubuh. Bila manusia tidak bisa hidup tanpa kepala, begitu pula agama tidak bisa wujud tanpa shalat. Nash-nash syariat yang menerangkan hal itu sangat banyak. Jika masalahnya sedemikian penting dan krusial maka satu hal yang sangat menyesakkan dada dan menyakitkan hati ialah bahwa di antara orang-orang yang mengaku Islam masih ada orang-orang yang hidup di tengah-tengah kaum muslimin, tetapi meremehkan dan menyepelekan shalat. Bahkan terkadang lebih parah dari itu. Laa haula wala quata illa billah!
Akankah mereka berhenti bersikap seperti itu sebelum mereka ditimpa murka Allah, dikepung azab Allah, atau dijemput maut?
Saudara-saudaraku yang rajin shalat! berbahagialah dengan shalat. Bergembiralah bila Allah melapangkan dada anda untuk melaksanakan kewajiban yang agung ini. Selamat buat anda yang akan menerima balasan dan anugerah dari Allah, baik di dunia maupun di Akhirat. Karena anda telah melaksanakan kewajiban agama yang agung ini.
Wahai orang-orang yang rajin shalat, ketahuilah bahwa shalat yang diterima oleh Allah harus memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, wajib-wajib, dan adab-adab tertentu. Di samping itu, banyak masalah penting dan kesalahan yang berkembang luas seputar kewajiban ini yang harus diketahui dan dipraktikkan oleh orang-orang yang shalat. Di dalam Musnad Ahmad disebutkan:
Orang yang paling buruk pencuriannya ialah orang yang mencuri sebagian dari shalatnya.’’ (al-Musnad, 5:310 )
Yang dimaksud dengan mencuri di dalam shalat ialah tidak menyempurnakan rukuknya, sujudnya dan khusyuknya.
Dan ada pula riwayat yang menyebutkan, bahwa orang yang selesai shalat akan dicatat dari shalatnya sebesar 25 persen, atau 20 persen, hingga 10 persen saja. ( HR. Ahmad, 4:321 dan Abu Daud, 796 )
Jamaah Jum’at Rohimahumullah,
Ini mengajak setiap muslim yang melaksanakan shalat agar memperhatikan urusan shalatnya, supaya ia tidak kehilangan pahala dan mendapatkan siksa.
Berikut ini adalah hal-hal singkat yang perlu mendapat perhatian dalam masalah ini :
1.   Bersuci secara lahir dan batin. Karena bersuci adalah syarat besar bagi sahnya shalat. Dan shalat tidak sah tanpa bersuci. Maka setiap orang yang menunaikan shalat harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh urusan bersuci dan wudlunya. Ia tidak boleh meremehkan hal itu. Juga tidak boleh berlebihan dalam menyikapinya hingga sampai ke tingkat waswas. Salah satu hal yang sangat disesalkan dalam soal ini yaitu sebagian orang awam tidak memberikan perhatian secukupnya terhadap masalah wudlu dan bersuci. Bahkan ada yang melakukan tayammum di dekat air atau sebenarnya bisa mencari air. Ini adalah kecerobohan yang nyata.
2.   Menghadap kiblat. Ini juga termasuk syarat sah shalat yang penting. Orang yang berada di Masjidil Haram harus menghadap ke arah Ka’bah secara tepat. Sebagian orang ternyata tidak memahami masalah ini atau meremehkannya.
3.   Menutup aurat. Ini juga termasuk syarat sah shalat yang penting. Apa yang dilakukan sebagian orang yang teledor dalam masalah ini seperti memakai pakaian yang transparan, atau celana ketat yang bisa memperlihatkan warna kulitnya atau membedakan sifatnya adalah hal yang perlu diperhatikan. Wanita di dalam shalat harus menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajahnya, jika berada di antara lelaki yang bukan mahramnya atau berada di masjid yang berpotensi dilihat oleh kaum lelaki, maka kondisi semacam ini ia wajib menutupi wajahnya. Dan ia harus datang ke masjid dengan pakaian yang sederhana, tertutup rapat, tidak bersolek dan tidak memakai parfum, agar ia bisa pulang ke rumahnya dengan membawa pahala, bukan dosa.
4.   Memperhatikan kerapian shaf (barisan). Dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merapikan sendiri barisan-barisan yang ada. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa beliau bersikap keras kepada orang yang tidak memperhatikan hal itu. Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Kalian benar-benar merapikan barisan kalian, atau Allah benar-benar akan membuat wajah-wajah kalian berselisih.’’ ( HR. Al-Bukhari, 717 dan Muslim, 436 )
5.   Inti shalat dan ruhnya adalah khusyu’. Allah berfirman :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ
 Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, ( Yaitu ) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun :1-2)
Di mana letak khusyu’nya orang-orang yang melaksanakan shalat dengan perasaan malas, berat, tertekan, kesal, dan ingin bebas dari kewajiban shalat? Di mana letak kekhusyu’an orang-orang yang tidak fokus di dalam shalatnya? Shalat mereka hanyalah main-main, gerak-gerik, tengak-tengok, miring kesana kemari, cepat-cepat dan tergesa-gesa. Hati mereka berkeliaran di lembah, sementara akalnya merumput di tempat lain. Shalat semacam ini adalah shalat yang kosong, tidak sempurna.
Maka setiap orang yang melaksanakan shalat, harus menjaga kekhusyukan dan kehadiran hatinya secara terus-menerus. Dan ia harus melakukan upaya-upaya yang bisa membantunya untuk itu, dan mewaspadai hal-hal yang merusak kekhusyukannya.
Jamaah Jum’at Rohimahumullah,
Thuma’ninah adalah salah satu rukun shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Kini banyak orang yang meremehkannya akibat lemahnya iman, dan tamaknya perasaan duniawi di dalam jiwa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang melaksanakan shalat secara buruk, karena tergesa-gesa dan tidak thuma’ninah.
Kembalilah lalu shalatlah. Karena sesungguhnya kamu belum shalat.’’ (HR. Al-Bukhari, 793 dan Muslim, 397 )
6.        Yang juga perlu diperhatikan ialah kewajiban mengikuti imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Sesungguhnya imam itu diadakan untuk diikuti.” ( HR.Al-Bukhari,688 dan Muslim, 412 )
Jadi, makmum tidak boleh lebih maju dari imam atau mendahului gerakan imam. Bahkan hal itu bisa menjadi penyebab tertolak atau batalnya shalat. Ada riwayat yang berisi ancaman keras terhadap orang yang berbuat seperti itu. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu yang disepakati keshahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim dinyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Tidaklah salah seorang di antara kamu merasa takut apabila ia mengangkat kepalanya sebelum imam bahwa Allah akan menjadikan kepalanya sebagai kepala keledai atau menjadikan wujudnya sebagai wujud keledai?!” (HR. al-Bukhari, 691,dan Muslim, 427 )
Imam Ahmad rahimahullah berkata : “Tidak sah shalat orang yang mendahului imamnya.”
Perkara yang demikian gawat dan sangsinya seperti itu seharusnya mendapat perhatian yang serius dari setiap orang yang melaksanakan shalat. Jangan sampai ia dijerumuskan oleh setan yang ingin merusak shalatnya. Dan kondisi rill para makmum dalam kaitan ini sangat memprihatinkan dan menyedihkan. Allahul Musta’an .
 Jamaah Jum’at Rohimahumullah,
Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah dalam urusan kita pada umumnya dan shalat kita pada khususnya. Karena bagian yang diperoleh seseorang dari Islam setara dengan kadar bagiannya dan dari shalat. Kini, marilah kita berfikir tentang kondisi kita sendiri. Apa yang akan kita peroleh bila kita meremehkan seluruh syi’ar Islam, terutama shalat? Sesungguhnya umat yang orang-orangnya tidak mau berdiri di hadapan Allah dalam shalat untuk meminta anugerah dan kebaikan dari-Nya, benar-benar pantas untuk tidak mampu berdiri kokoh pada momen-momen kebaikan, persatuan, kemenangan dan kekuatan. Karena semua itu hanya bisa datang dari Allah semata. Maka, apabila kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah, niscaya Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia.
Sesungguhnya kehancuran dan kemunduran peradaban yang terjadi di berbagai belahan bumi, berpangkal pada kejatuhan anak-anaknya di lembah-lembah pelanggaran hukum dan keengganan melaksanakan kewajiban yang paling wajib, yaitu shalat.
Hanya Allahlah yang pantas kita minta untuk memperbaiki kondisi umat Islam di mana saja, memberi mereka pemahaman yang benar tentang agamanya. Dan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang teguh menjaga syi’ar-syi’ar agamanya, menghormatinya, dan menegakkan tiangnya dengan sebaik-baiknya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Barokallohu li walakum fil qur’anil ‘adzim, wanafaani minnal ayati wadzikril hakim. Wataqoballohu minna wa minkum tilawatahu, innahu huwal ghofurrurrohim.....

KHUTBAH JUM'AT : “MAKNA TAUHID RUBUBIYYAH, MULKIYYAH DAN ULUHIYYAH”

MATERI KHUTBAH JUM’AT
“MAKNA TAUHID RUBUBIYYAH, MULKIYYAH DAN ULUHIYYAH”

Oleh : Royo Eko Wardoyo, S.Pd
Disampaikan di Masjid Al Mu’minun, Perum Citramas, Cimalaka

? Mukaddimah Khutbah Jum’at
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh,
ان الحمد للھ نحمدە ونستعينھ ونستغفرە ونعوذبا للھ من شرور ٲنفسنا ومن سيأت اعما لنا من يھده اللھ فلا مضل لھ ومن يضلل فلا ھادي لھ واشھدان لاالھ الااللھ واشھدان محمدا  عبده ورسولھ
قل اللھ تعل فى الكتب الكريم
بسم اللھ الرحمن الرحيم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ  
قل اللھ تعل  ايظن بسم اللھ الرحمن الرحيم
                                                                                  ﻗﻞﺍﻋﻮﺬﺑﺮﺍﻟﻧﺎﺲ۝ﻤﻟﻚﺍﻟﻧﺎﺲ۝ﺍﻟﻪﺍﻟﻧﺎﺲ۝ﻤﻦﺸﺮﺍﻟﻭﺴﻭﺍﺲﺍﻟﺧﻧﺎﺲ۝ﺍﻟﺬﻱﻴﻮﺴﻭﺲﻓﻲﺼﺩﻮﺮﺍﻟﻧﺎﺲ۝ﻤﻥﺍﻟﺟﻧﺔﻮﺍﻟﻧﺎﺲ




Jamaah Rahimakumullah,

            Kita mungkin sudah hafal betul dengan surat An-Naas yang mungkin setiap hari kita baca, kita lafalkan dalam sholat dan ibadah kita, namun kadangkala kita jarang sekali berusaha untuk membahas isi dan kandungannya. Alih-alih membahas atau membuka tafsir kemudian mentadzaburi dan mengupas kandungannya, seringkali kita umat Islam sendiri punya kecenderungan hanya sebatas hafal saja, jauh dari mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ibaratnya buah, kita hanya merasakan kulitnya saja jauh dari isinya. Untuk itu sengaja pada kesempatan khutbah jum’at hari ini sedikit kita sampaikan tentang kandungan Surat An-Naas, dengan harapan mudah-mudahan kita semua dapat memetik pelajaran darinya.
Jamaah Rahimakumullah,
Surat An-Naas merupakan golongan surat yang diturunkan di Mekah atau yang biasa disebut surat Makkiyyah. Nama “An-Naas” diambil dari kata “An-Naas” yang disebut berulang kali di dalam surat ini yang berarti manusia. Diturunkan sesudah surat Al Falaq, surat An-Naas terdiri dari 6 ayat yang pokok isinya adalah perintah kepada manusia agar berlindung kepada Allah SWT dari segala macam kejahatan yang datang ke dalam jiwa manusia dari jin dan manusia.  
Ustadz Ibnu Katsir dalam Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hal 696 menjelaskan , “Ayat 1 sampai 3 dari surat An-Nas yakni : Qul A’udzu birobbinnas, malikinnas, ilaahinnas.. menegaskan 3 aspek ketauhidan  yang paling fundamental yakni Tauhid Rububiyyah, Mulkiyyah dan Uluhiyyah”.
            Tauhid Rububiyyah terambil dari kalimat Rabbinas. Maknanya yakin hanya Allah satu-satunya yang Maha Pencipta, Pemilik, Pengendali alam raya dan dengan kekuasaan-Nya Ia menghidupkan dan mematikan. Seperti yang tertera dalam penggalan firman-Nya di dalam Q.S. Ar-Rum 30 : 40 di bawah ini :


ﺍﷲ ﺍﻠﻨﻱ ﺧﻠﻗﻛﻡ ﺛﻡ ﺮﺯﻗﻛﻡ ﺛﻡ ﻴﻣﻴﺗﻛﻡ............. ﴿ ﺍﻠﺮوﻡ ׃ ٤٠﴾    
  Artinya : “ Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian
                    memberimu rizki, kemudian mematikanmu, kemudian            
                    menghidupkanmu(kembali)….” ( Q.S. Ar-Rum 30 : 40)

Tauhid Rububiyyah     ini juga berarti mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal perbuatanNya. Seperti mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan bahaya, memberi manfaat, dan lain-lain yang merupakan perbuatan-perbuatan khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang muslim haruslah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam RububiyahNya.
Tauhid Mulkiyyah terambil dari kalimat Malikinnas. Maknanya, yakin hanya Allah SWT raja atau penguasa yang sesungguhnya, penguasa yang paling berhak menentukan aturan hidup. Aturan hidup-Nya termaktub dalam Al-Qur’an dan sunah Rasul. Jadi,  kalau kita mau mempelajari dan mengamalkan aturan hidup itu, berarti kita telah melaksanakan Tauhid Mulkiyyah. Bahkan Allah SWT mengecam orang-orang yang tidak mengimplementasikan Tauhid Mulkiyyah dalam kehidupannya, seperti yang ada dalam Q.S. Al Maidah 5 : 50 di bawah ini :
ﺃﻓﺣﻜﻡ ﺍﻠﺟﺎﻫﻠﻴﺔ ﻴﺑﻐﻭﻦ٠ﻭﻤﻦ ﺃﺤﺴﻦ ﻤﻦ ﺍﷲ ﺤﻜﻤﺎ ﻠﻗﻭﻢ ﻴﻭﻗﻧﻭﻦ ﴿ﺍﻟﻤٮدۃ׃٥٠﴾
Artinya : ” Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan  
                   (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum)
                   Allah bagi orang-orang yang yakin?”
                                                                       (Q.S. Al Maidah 5 : 50)

Jamaah Rahimakumullah,
Yang dimaksud hukum jahiliyyah adalah aturan hidup atau hukum produk manusia yang berseberangan atau bertentangan dengan nilai-nilai Qur’ani. Misalnya saat pembagian warisan kita lebih suka menggunakan hukum waris adat ketimbang hukum waris Islam, padahal hukum waris adat banyak yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ini merupakan pelanggaran terhadap Tauhid Mulkiyyah. Adapun hukum atau aturan buatan manusia yang tidak bertentangan atau sejalan dengan nilai-nilai Islam, tentu tidak disebut hukum jahiliyyah dan kita wajib untuk menaatinya demi kemaslahatan. Salah satu contohnya adalah kita harus menghentikan kendaraan bila lampu merah. Aturan ini harus kita taati karena tidak menyalahi aturan Islam dan bermanfaat untuk kemashlahatan. Contoh yang lain, saat ujian atau tes, kita tidak boleh bermain curang (nyontek). Ini aturan yang wajib ditaati karena senafas dengan ajaran Islam yang menekankan kejujuran dalam segala hal. Inilah makna aqimishsholat ( = mendirikan sholat) yang berbekas dalam segala aspek kehidupan.
Jamaah Rahimakumullah,
Tauhid Uluhiyyah terambil dari kalimat Ilaahinnas. Maknanya, suatu keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang paling berhak untuk diibadahi. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya 21 : 25 berikut ini :

ﻭﻤﺎ ﺃﺮﺴﻟﻨﺎ ﻤﻦ ﻗﺑﻟﻙ ﻤﻦ ﺮﺴﻭﻞ ﺍﻻ ﻨﻭﺤﻰ ﺇﻟﻴﻪ ﺃﻨﻪ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺃﻨﺎ  ﻓﺎﻋﺑﺪﻭﻥ      ﴿ﺍﻻﻨﺑﻴﺎء׃٢٥﴾                                                                        
Artinya :  ”Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepada mereka bahwa tiada Tuhan selain Aku, maka beribadahlah hanya kepada-Ku”.
(Q.S. Al Anbiya :25)

Tauhid Uluhiyyah juga berarti mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam jenis-jenis peribadatan yang telah disyariatkan. Seperti ; shalat, puasa, zakat, haji, do’a, nadzar, sembelihan, berharap, cemas, takut, dan sebagainya yang tergolong jenis ibadah. Mengesakan Allah SWT dalam hal-hal tersebut dinamakan Tauhid Uluhiyah. Tauhid jenis inilah yang dituntut oleh Allah SWT dari hamba-hamba-Nya. Karena tauhid jenis pertama, yaitu Tauhid Rububiyyah, setiap orang (termasuk jin) mengakuinya, sekalipun orang-orang musyrik yang Allah SWT utus Rasulullah kepada mereka. Mereka meyakini Tauhid Rububiyyah ini, sebagaiman tersebut dalam firman Allah SWT berikut ini :

ﻭﻠﯦﻦ ﺴﺄ ﻠﺗﻬﻢ ﻤﻦ ﺧﻠﻖﺍ ﻠﺴﻤﻮﺍﺖ ﻮﺍﻻ ﺮﺽ ﻮﺴﺨﺮﺍﻠﺸﻤﺲ ﻮﺍﻠﻗﻤﺮ ﻠﻴﻗﻮﻠﻦ ﺍﷲ ﻔﺄ ﻧﻰ ﻴۇﻔﻜﻮﻦ ﴿ﺍﻠﻌﻨﻜﺑﻮﺕ׃٦١﴾                                                             
                                                                                 
Artinya : Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : ”Siapakah yang menjadikan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab ”Allah”, maka bagaimana mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).
   (Q.S. Al Ankabut 29 : 61)

Menurut ayat ini, mereka meyakini kalau Allah itu yang menciptakan langit dan bumi serta yang mengatur peredaran alam semesta. Ini merupakan indikator adanya Tauhid Rububiyyah, namun mereka tidak memiliki Tauhid Uluhiyyah, di mana mereka tidak pernah menyembah Allah SWT sebagai Tuhan namun mereka malah mempersekutukan Allah dengan menyembah Thogut, Latta, Uzza dan lain sebagainya. Jadi dapat disimpulkan bahwa orang yang punya Tauhid Rububiyyah belum tentu memiliki Tauhid Uluhiyyah.
Firman Allah SWT yang lainnya berkaitan dengan ketauhidan Rububiyyah oarang-orang kafir :
1.    Q.S. Al-Zukhruf : 87, yang Artinya : Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka ?’ niscaya mereka menjawab ‘Allah’. Maka bagaimana mereka dapat dipalingkan(dari menyembah Allah)”
2.    Q.S. Al-Mu’minun : 86-87 yang Artinya : Katakanlah, ‘Siapakah yang mempunyai tujuh langit dan mempunyai ‘Arsy yang besar ?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa?”

Jamaah Rahimakumullah,
      Masih banyak ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrik meyakini Tauhid Rububiyah. Akan tetapi, sebenarnya yang dituntut dari mereka adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah. Jika mereka mengikrarkan Tauhid Rububiyah, maka hendaknya juga mengakui Tauhid Uluhiyah (ibadah). Sungguh, Rasulullah (diutus untuk)menyeru mereka agar meyakini Tauhid Uluhiyah. Hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT dalam Q.S. An-Nahl : 36 yang artinya :
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut, lalu diantara umat-umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula orang-orang yang telah dipastikan sesat. Oleh karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan para rasul”
Setiap rasul menyeru manusia agar meyakini Tauhid Uluhiyah. Adapun Tauhid Rububiyah, karena merupakan fitrah, maka belumlah cukup kalau seseorang hanya meyakini tauhid ini saja.
Jamaah Rahimakumullah,
Marilah kita proyeksikan analisis ini pada kehidupan kita. Apakah diri kita sama dengan orang-orang kafir yang hanya memiliki ketauhidan Rububiyyah saja sedangkan keyakinan kita tentang Tahuhid Uluhiyyah belum pada tempatnya???? Mari kita menghasabah diri sendiri masing-masing untuk meraih kesempurnaan peribadahan kepada Allah SWT dengan berkeyakinan dan berpegang pada Tauhid Rububiyyah, Mulkiyyah dan Uluhiyyah.
Mudah-mudahan materi khutbah Jum’at yang saya sampaikan bermanfaat khususnya kepada diri saya sendiri dan umumnya untuk jamaah semuanya. Amin ya robbal ‘alamin......

Barokallohu li walakum fil qur’anil ‘adzim, wanafaani minnal ayati wadzikril hakim. Wataqoballohu minna wa minkum tilawatahu, innahu huwal ghofurrurrohim.....

ﺍﻥﺍﷲ ﻮﻣﻶ ﺌﻜﺘﻪ ﻴﺼﻟﻮﻥﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺑﻰ ﻴﺎﺍﻴﻬﺎ ﺍﻠﺬﻴﻦ آﻤﻧﻮ ﺍﺼﻟﻮ ﺍﻋﻟﻴﻪ ﻮﺴﻠﻤﻭﺍﺗﺴﻟﻡ                                    
                 

Ibadallah, innalloha ya’muru bil ‘adli wal ihsan. Waitaa idil qurba wa yanha ‘anil fahsa’i wal munkar wal bagh. Ya’idzukum la’alakum tadzakarun. Wala dzikrulohi akbar.

KHUTBAH JUM’AT: KEUTAMAAN IBADAH KURBAN Oleh : Royo Eko Wardoyo, S.Pd اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ . وَأَ...